KALAU DUNIA TERLALU RAMAI, BOLEHKAH AKU MENEPI ?
Belakangan ini hari-hariku terasa penuh ...
Penuh dengan hal-hal yang tidak bisa ku jelaskan. Kepalaku ramai oleh suara-suara orang lain, hatiku sesak oleh perasaan yang tak sempat ku tata.
Semua terasa mendesak, semua ingin segera di jawab, semua ingin aku selalu hadir ... padahal, aku bahkan belum bisa hadir sepenuhnya untuk diriku sendiri.
Kadang dunia terasa terlalu bising ... terlalu banyak suara, terlalu banyak tuntutan, dan terlalu banyak hal yang harus di jelaskan. Padahal aku sendiri bahkan belum selesai memahami diriku.
Aku mendengar banyak hal dari luar, tapi tak sempat mendengar apa-apa dari dalam. Aku sibuk menjawab, menyesuaikan, bertahan ... sampai lupa caranya diam dan mendengarkan hatiku sendiri.
Dan di tengah hiruk pikuk ini, aku hanya ingin bertanya,
Bolehkah aku pergi sejenak, dari obrolan yang terasa kosong ?
Dari tekanan yang datang tanpa henti ?
Dan dari tuntutan untuk terus terlihat baik-baik saja ?
Bolehkah aku menepi ?
Menepi bukan untuk menghilang. Dan bukan karena aku menyerah. Tapi karena aku butuh ruang untuk kembali bernapas. Butuh tempat yang tenang agar aku bisa mengingat siapa aku, dan mengapa aku bertahan sejauh ini.
Aku tak ingin menghilang. Aku hanya ingin menepi. Menepi ke ruang sunyi yang bisa menenangkan detak jantung ku. Menepi ke tempat dimana aku tak perlu kuat setiap saat. Tempat dimana air mataku tak di anggap lemah, dan diamku tak di anggap salah.
Mungkin menepi adalah cara tubuhku berbicara. Bahwa ia butuh dipeluk, bukan di dorong terus-menerus, bahwa aku tak harus 'menyala' setiap hari untuk tetap berharga.
Jadi, biarkan aku menepi ...
Bukan untuk lari, tapi untuk kembali. Kembali dengan hati yang lebih tenang, dengan langkah yang lebih ringan, dan dengan jiwa yang utuh kembali dalam mencintai hidup.
Karena kadang,
Menepi adalah bentuk paling jujur dari merawat diri.
Peluk hangat,
Intaa 🌷
Penuh dengan hal-hal yang tidak bisa ku jelaskan. Kepalaku ramai oleh suara-suara orang lain, hatiku sesak oleh perasaan yang tak sempat ku tata.
Semua terasa mendesak, semua ingin segera di jawab, semua ingin aku selalu hadir ... padahal, aku bahkan belum bisa hadir sepenuhnya untuk diriku sendiri.
Kadang dunia terasa terlalu bising ... terlalu banyak suara, terlalu banyak tuntutan, dan terlalu banyak hal yang harus di jelaskan. Padahal aku sendiri bahkan belum selesai memahami diriku.
Aku mendengar banyak hal dari luar, tapi tak sempat mendengar apa-apa dari dalam. Aku sibuk menjawab, menyesuaikan, bertahan ... sampai lupa caranya diam dan mendengarkan hatiku sendiri.
Dan di tengah hiruk pikuk ini, aku hanya ingin bertanya,
Bolehkah aku pergi sejenak, dari obrolan yang terasa kosong ?
Dari tekanan yang datang tanpa henti ?
Dan dari tuntutan untuk terus terlihat baik-baik saja ?
Bolehkah aku menepi ?
Menepi bukan untuk menghilang. Dan bukan karena aku menyerah. Tapi karena aku butuh ruang untuk kembali bernapas. Butuh tempat yang tenang agar aku bisa mengingat siapa aku, dan mengapa aku bertahan sejauh ini.
Aku tak ingin menghilang. Aku hanya ingin menepi. Menepi ke ruang sunyi yang bisa menenangkan detak jantung ku. Menepi ke tempat dimana aku tak perlu kuat setiap saat. Tempat dimana air mataku tak di anggap lemah, dan diamku tak di anggap salah.
Mungkin menepi adalah cara tubuhku berbicara. Bahwa ia butuh dipeluk, bukan di dorong terus-menerus, bahwa aku tak harus 'menyala' setiap hari untuk tetap berharga.
Jadi, biarkan aku menepi ...
Bukan untuk lari, tapi untuk kembali. Kembali dengan hati yang lebih tenang, dengan langkah yang lebih ringan, dan dengan jiwa yang utuh kembali dalam mencintai hidup.
Karena kadang,
Menepi adalah bentuk paling jujur dari merawat diri.
Peluk hangat,
Intaa 🌷
Terima kasih sudah membaca. Semoga kamu bisa merasa ditemani disini.
Komentar
Posting Komentar