BISAKAH AKU MENEMUKAN DAMAI DI TENGAH SEGALANYA ?
Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku benar-benar merasa tenang. Rasanya seperti dunia terus berputar, terlalu cepat, dan aku tertinggal di belakang- terengah, mencoba mengejar napas yang entah sejak kapan hilang.
Hari-hari berlalu dengan segala tuntutan dan luka yang tak sempat sembuh. Aku belajar tersenyum meski hatiku nyeri, tertawa di tengah tangis yang tak sempat terdengar. Aku berpura-pura untuk kuat saat hatiku rapuh, tetap berjalan meski kakiku lelah, dan tetap berharap meski sering di kecewakan.
Aku sering bertanya dalam diam, bisakah aku benar-benar merasa tenang ... di tengah hidup yang terus mengguncang ?
Saat semuanya terasa terlalu ramai, tapi juga terasa sepi. Saat orang-orang ada di sekelilingku, namun hatiku tetap merasa sendiri.
Saat kecewa datang tanpa permisi. Saat orang-orang pergi tanpa alasan. Saat harapan patah satu per satu. Bisakah aku tetap menemukan cahaya kecil ... yang menuntunku kembali pulang ke dalam diriku sendiri ?
Lalu ... bisakah aku menemukan damai di tengah segalanya ? Di tengah suara-suara yang menyesakkan dada, di tengah luka yang tak kunjung pulih, di tengah ketakutan, kehilangan, dan kelelahan yang tak ada ujungnya ?
Mungkin damai bukan berarti semuanya baik-baik saja. Mungkin damai adalah ketika aku belajar menerima, walau semuanya belum sesuai harapan. Ketika aku berhenti melawan takdir, dan mulai menggenggam yang masih bisa aku syukuri.
Dan mungkin ...
Damai adalah saat aku berhenti mencari pembuktian, tetapi saat aku mulai memberi izin pada diriku untuk hanya menjadi ... manusia. Yang terkadang takut, terkadang salah, dan terkadang ingin menyerah. Tetapi tetap memilih bertahan.
Jadi ... bisakah aku menemukan damai di tengah segalanya ?
Mungkin jawabannya ... iya.
Sedikit demi sedikit. Dengan mencintai diriku sendiri- meski perlahan, meski belum sempurna.
Peluk hangat,
Intaa 🌷
Hari-hari berlalu dengan segala tuntutan dan luka yang tak sempat sembuh. Aku belajar tersenyum meski hatiku nyeri, tertawa di tengah tangis yang tak sempat terdengar. Aku berpura-pura untuk kuat saat hatiku rapuh, tetap berjalan meski kakiku lelah, dan tetap berharap meski sering di kecewakan.
Aku sering bertanya dalam diam, bisakah aku benar-benar merasa tenang ... di tengah hidup yang terus mengguncang ?
Saat semuanya terasa terlalu ramai, tapi juga terasa sepi. Saat orang-orang ada di sekelilingku, namun hatiku tetap merasa sendiri.
Saat kecewa datang tanpa permisi. Saat orang-orang pergi tanpa alasan. Saat harapan patah satu per satu. Bisakah aku tetap menemukan cahaya kecil ... yang menuntunku kembali pulang ke dalam diriku sendiri ?
Lalu ... bisakah aku menemukan damai di tengah segalanya ? Di tengah suara-suara yang menyesakkan dada, di tengah luka yang tak kunjung pulih, di tengah ketakutan, kehilangan, dan kelelahan yang tak ada ujungnya ?
Mungkin damai bukan berarti semuanya baik-baik saja. Mungkin damai adalah ketika aku belajar menerima, walau semuanya belum sesuai harapan. Ketika aku berhenti melawan takdir, dan mulai menggenggam yang masih bisa aku syukuri.
Dan mungkin ...
Damai adalah saat aku berhenti mencari pembuktian, tetapi saat aku mulai memberi izin pada diriku untuk hanya menjadi ... manusia. Yang terkadang takut, terkadang salah, dan terkadang ingin menyerah. Tetapi tetap memilih bertahan.
Jadi ... bisakah aku menemukan damai di tengah segalanya ?
Mungkin jawabannya ... iya.
Sedikit demi sedikit. Dengan mencintai diriku sendiri- meski perlahan, meski belum sempurna.
Peluk hangat,
Intaa 🌷
Terima kasih sudah membaca. Semoga kamu bisa merasa ditemani disini.
Komentar
Posting Komentar